Member of Federasi Olah Raga Karate-Do Indonesia
SINCE 1967
MEMORIES :

MENU
Silahkan klik pada tombol menu yang diinginkan:

curriculum
organization
forki
karate coach
event
black belt
merchandise
article
article


















Basic (KIHON) pada saat ujian kwartal di DKI 2004




Kirimkan berita, pengumuman dan acara yang akan dan telah berlangsung di daerah anda ke email redaksi.











PERGURUAN DALAM MEDIA (FLASHBACK)


MERDEKA OLAH RAGA' Selasa,18 Maret 1980

FULL CONTACT MENYIMPANG DARI PRINSIP?
Oleh : Nardi T.Nirwanto S.A

Koichi Tohei ,seorang Pewaris Aikido (murid Utama Master Morihei Uyeshiba) berkata:``Dalam suatu olah raga,dimana tujuan dari latihan adalah untuk mencapai kemenangan dalam pertandingan,terdapat peraturan dan ketentuan yang harus ditaati dan diperhatikan;umpama,masing masing harus memegang tepi baju lawan atau sabuknya,tidak diperbolehkan memukul dibawah sabuk,tidak boleh menendang,menggigit atau menusuk mata dan lain lain.
Tanpa adanya peraturan peraturan itu,pasti olah raga sangat berbahaya.Hal ini baik bagi olah raga,tapi apabila kamu berharap mempraktekkan apa yang diperoleh dalam latihan seperti itu untuk menghadapi perkelahian sungguh sungguh,tidak akan menguntungkan.
Seni beladiri haruslah sesuatu yang bisa diandalkan dalam perkelahian sesungguhnya.Kamu tidak perlu mempergunakan seni beladiri terhadap seseorang yang menyerangmu secara gurau,tetapi apabila lawanmu sedang bersungguh sungguh dan bertujuan untuk mencelakakan dirimu,kamu tidak bisa berkata `salah` terhadap segala sesuatu yang ia lakukan. Kamu tidak boleh berdalih `` saya berlatih dengan memegang tepi baju lawan,jadi kamu juga harus demikian,jangan menendang saya sungguh sungguh,karena itu adalah pengecut dan melanggar ketentuan ``atau``saya belajar berkelahi hanya dengan memukul,jadi jangan mencekik leher aya``.
Bukan soal bagaimana dia menyerangmu,kamu harus berusaha untuk melawan serangannya dan mengatasinya.Apabila kamu berlatih tergantung pada suatu peraturan,akan menjadi kebiasaan didalam perkelahian sesungguhnya,kamu akan berkelahi dan mempertahankan diri terikat pada kebiasaan itu.
Suatu contoh yang dialami Master suatu seni beladiri yang memegang lawannya pada pakaiannya untuk melemparkannya,dia sendiri tertikam sebagai akibatnya,tanpa mengetahui lawan memegang apa pada tangannya adalah tolol untuk memegang lawan dari depan.Dia tidak usah terkejut apabila tertikam.
Kebiasaan pada latihan sehari hari tentu saja tiba tiba keluar secara refleks,karenanya,harus ada perbedaan yang tegas antara olah raga dan seni beladiri.Adalah sukar untuk mempersatukan seni beladiri dan olah raga secara bersama sama``.*

Kata kata ini keluar dari seorang Master Aikido yang diciptakan oleh Prof.Morihei Uyeshiba yang layak disegani karena keluarbiasaannya,dimana sebelum Perang Dunia II hanya bisa diikuti golongan atas saja serta dipejari oleh orang orang tertentu yang dapat dipastikan tidak akan menyalah gunakannya sesuai prinsip prinsip Aikido.
Seni ini terkenal dengan tehnik tehnik lembut,kecerobohan tenaga lawan dipakai untuk mengalahkan lawan tersebut,effisien sekali.
Hanya ketekunan dan keyakinan yang luar biasa sempat menjadikan seseorang akhli dalam seni ini. Walaupun Aikido lebih halus dari Judo,oleh expertnya masih ditekankan perlunya tenaga (power) dan cara latihan yang sesuai dengan kenyataan.Demikian juga tidak bisa disangkal,untuk menjadi Judoka yang baik tenaga adalah mutlak dan praktek dalam latihan sesuai kenyataan tidak bisa dihindari.
Orang harus mengalami dibanting,dilempar,dilipat juga melipat lawan,membanting,melempar lawan kadang kadang terjadi cedera,patah tulang,terkilir dan salah otot,semuanya dianggap wajar untuk mencapai kenyataan dalam keadaan sesungguhnya. Kendo,seni bermain pedang,walaupun sebagai alat latihan digunakan kayu atau kumpulan belahan bambu khusus yang cukup keras,nyatanya siswa perguruan ini banyak yang mengalami babak belur karena disodok,disambit dan dipukulkan kearah tubuhnya.
Ini semua dimaksud agar ketrampilan yang diperoleh sesuai keadaan sebenarnya dan badan serta mental menjadi tabah,sakit dan penderitaan sudah dianggap suatu keharusan untuk membina ketahanan phisik yang tinggi. Di Jepang,anak pulang dalam keadaan babak belur karena latihan di dojo,tidak menyebabkan orang tuanya marah dan melarang anaknya berlatih lagi,justru dianjurkan untuk berlatih keras agar lain kali bisa terhindar dari keadaan yang demikian,penderitaan phisik dalam latihan sering merupakan kebanggaan untuk mendorongnya lebih maju.Contoh contoh tersebut dan banyak contoh lain mengajak kita untuk lebih mendekati kenyataan,mengapa harus makin menjauhi. (*Sedangkan di Tanah Air,anak pulang dari latihan di dojo,mengeluh apalagi menangis dihadapan orang tuanya,khususnya ibu karena beratnya latihan,maka prosentasi terbanyak akan menganjurkan anaknya untuk berhenti berlatih.Untung kalau tidak sampai marah marah atau menghujat si Pembinanya !!.Perbedaan budaya yang cukup besar.Di Jepang anak diajar untuk mandiri,percaya diri,harga diri diutamakan sedangkan di Tanah Air terbanyak ialah;memanjakan,mengabaikan pembentukan mental dan karakter,apalagi kalau banyak uang….kalau dewasa….tahu sendiri akibatnya*).Juga dalam karate ``full contact``, seorang dibina dalam masa yang lama dan berat,dihadapkan pada kenyataan yang bisa timbul dalam keadaan terpaksa untuk membela diri,baik dalam menghalau,mengalahkan lawan maupun kemungkinan apa yang bisa dialami dalam menghadapi penyerangan.
Pertandingan adalah sekedar intermezzo untuk mendekatkan karate pada masyarakat penggemarnya,tapi bukan tujuan utama,yang utama adalah pembinaan mental phisiknya dan ketahanannya dalam membeladiri dengan seni beladiri karate ini.

Dari Silat Tiongkok
Sebagai induknya Karate - Judo - Aikido,khussusnya yang berkembang di Benua Asia adalah bersumber dari Silat Tiongkok beberapa abad yang lalu,pada saat itupun, latihan dilakukan dalam keadaan sungguh sungguh dan cukup berat,kontak phisik adalah hal sehari hari dalam latihan untuk mencapai hasil yang tinggi sebagai alat beladiri yang utama pada masa itu. Dalam pertumbuhan sejarah,silat ini tersebar hampir keseluruh pelosok Asia antara aliran lemah (halus) dan kuat (keras) ,antara penguasaan tangan dan ketrampilan kaki dan mengalami asimilasi dengan seni beladiri yang ada di tempat ia datang. Karate tumbuh di Jepang sejak tahun 1923 dimana mulai diperkenalkan oleh Master Gichin Funakoshi,disebut sebagai seni modern,karena telah mengalami revisi dibeberapa bagian dari keadaan yang murni dari seni beladiri,juga perbaikan metode dan peraturan peraturannya.

Salah satu yaitu ;dari kontak langsung yang menjadi ciri induknya menjadi non kontak dengan pengertian,karate modern sebagai olah raga yang bisa dipertandingkan.
Kalau kita teliti sedalam dalamnya,falsafah karate modern non kontak dimana pukulan- tendangan langsung menjadi salah satu larangan yang utama,baik dalam latihan maupun pertandingan,merupakan - alat manusia - yang menyebut dirinya modern,untuk menjaga SUPREMASI GURU,senior terhadap muridnya - junior.Sehingga murid bagaimanapun juga tidak bisa nyata nyata melebihi gurunya dan para seniornya,karena mereka selalu terlindung dengan ketentuan dan peraturan non kontak bahkan kalau sampai terjadi si junior menjatuhkan si senior baik dengan pukulan maupun tendangan,akan memperoleh hukuman karena dianggap melanggar jiwa karate do yang sudah mengalami revisi tadi.

Akibatnya,semacam kerajaan,pewaris kedudukan adalah secara otomatis tanpa menghiraukan kecakapan dan kemampuan,menjadi pimpinan yang berlindung dibelakang peraturan demi keselamatan yang diatas.
Perpecahan sering terjadi karena murid merasa lebih mampu dari guru karena murid tidak pernah mengalami kemampuan guru secara nyata..

Pelampiasan nafsu?

Sistim kontak langsung bukan berarti pelampiasan nafsu yang tak terkontrol,justru pada sistim ini pengekangan nafsu adalah mutlak karena adanya kesempatan full contact (baik tendangan - pukulan boleh dilemparkan semaksimal mungkin) masih diikuti larangan larangan,dimana seseorang dianjurkan bertanding keras tetapi tidak kasar (menyalahi pengertian olah raga) dan justru terbukti pada sistim Full Contact,pelanggaran fatal lebih sedikit dari Non Contact.
Kontrol emosi jangan diartikan dalam bentuk lahirnya saja,apalagi hanya dikaitkan dalam pertandingan,control seorang karateka adalah control dalam arti yang luas,control sikap,control jiwa dalam mengekang emosi yang angkara murka. Judo,Kick Boxing dan Tinju adalah contoh pertandingan keras dan contact, apakah ini berarti semuanya itu pelampiasan nafsu dan bertujuan menyakiti lawan atau mengalahkan lawan?
Yang menciptakan jiwa karate do modern adalah manusia permulaan abad XX,tetapi bukan jiwa karate do sebagai seni beladiri asli yang lahir dari induknya yang satu tadi.
Tanggung jawab karateka full contact tidak dibawah karateka non contact dan nilai kepribadiannyapun tidak serendah yang mengatakan:``Karate full contact tidak sesuai prinsip beladiri karate``.
Alasan yang dicari cari untuk mendiskreditkan arti karate full contact sering tidak sejalan dengan logika dan kenyataan. Mengapa karate harus lari dari kenyataan,sedangkan olah raga keras lain tetap hidup dengan baik,seperti balap mobil,terjun payung dan motocross yang tidak kalah besar bahayanya.
Pengertian bahwa karate full contact berbahaya,adalah dalih yang dilebih lebihkan,prakteknya,para karateka full contact bisa mengatasinya,karena pertama,persiapan yang lama dan matang sesuai kegunaannya,kedua,masing masing seimbang dan merupakan - moving target bagi yang lain sehingga baik pukulan - tendangan yang maksimalpun sukar untuk mengenai titik sasaran secara tepat karena pergesaran arah dan sudut,tidak seperti memukul - menendang benda mati,ketiga,karena masing masing sudah dibekali tehnik dan ketrampilan untuk menetralisir kedahsyatan serangan lawan.
Kalau sekali kali terjadi kecelakaan,cedara dan hal hal yang fatal,maka bisa dianggap sebagai risiko dalam segala gerak langkah kehidupan.,khususnya dalam satu pertandingan,dimana segi ketrampilan phisik diutamakan.
``Hidup tidak mungkin tanpa risiko tetapi risiko yang sudah diperkecil kemungkinannya``.
Memang harus diakui,sistim full contact tidak bisa digunakan untuk memasalkan karate,karena beratnya latihan dan khususnya dalam jiyu kumitenya (perkelahian bebas).
Hanya mereka yang tahan uji,tekun dan sanggup menderita demi mencapai hasil gemblengan mental phisik yang membutuhkan pengorbananlah,bisa bertahan.
Ini memang tidak banyak.


Dua Karateka senior berlari mengantar mobil bapak Widjojo Sujono menuju Pusat Perguruan

Saat Ujian DAN yang berlangsung di DOJO PUSAT, Jl. Panglima Sudirman No.10 BATU, tahun 1993.






























Untuk kritik dan saran:
HUBUNGI REDAKSI

Hak Cipta © 2005 kyokushin.or.id. Kedua logo perguruan terdaftar pada HAKI No.J00-01-19127 dan HAKI No.J00-01-19128. Dikelola oleh Andreas Laratsemi, dan didukung langsung oleh Pimpinan Pusat Perguruan. Tampilan terbaik pada resolusi 1024 x 768.