Member of Federasi Olah Raga Karate-Do Indonesia
SINCE 1967
MEDIA CETAK :

MENU
Silahkan klik pada tombol menu yang diinginkan:

curriculum
organization
forki
karate coach
event
black belt
merchandise
article
article
pesan perguruan









Basic (KIHON) pada saat ujian kwartal di DKI 2004











Kirimkan berita, pengumuman dan acara yang akan dan telah berlangsung di daerah anda ke email redaksi.











SUARA SHIHAN

KEBUDAYAAN
HILANGKAN UNSUR KEKERASAN & KEKEJAMAN


Saya mendadak tanpa sadar berteriak keras seorang diri : ` Bia.........lanjutannya terka sendiri.
Mengapa ?
Pada tayangan salah satu TV terlihat satu adegan yang sangat memilukan. Sungguh, air mata saya meleleh saat itu, seorang diri. Entah berapa pribadi di Tanah Air yang saat itu juga mengeluarkan air mata bersama saya walau jauh satu sama yang lain. Tapi senada dan seirama dalam perasaan. Atau setidaknya mau mengelus dada sambil bergumam: ` Ohhhhhh Kebudayaan ! `.

Adegan saat itu menampilkan upacara ` KEBUDAYAAN `. Seekor `Satwa Besar` sedang diikat pada hidungnya dengan beberapa utas tali yang kuat serta beberapa orang memegang tali tersebut sambil satwa itu meronta ronta dikelilingi penonton di tengah tanah lapang. Satwa itu terlihat coba membeladiri dan melawan sehingga ada satu orang yang terjatuh diseruduknya.
Mengapa satwa yang biasanya penurut dan patuh itu meronta dan melawan ?
Beberapa orang dengan golok sesuai berita sedang melakukan persembahan Upacara Adat.
Dengan golok panjang itu mereka saling menusuk satwa tersebut. Tentu saja mahluk tak berdaya ini kesakitan dan menerita, karenanya meronta ronta serta coba melawan, tapi tak berdaya dan tak mampu lepas dari siksaan ini ( katanya : takdir ) karena ikatan yang kuat dan dipegang banyak orang. Tusukan ini terus berlanjut hingga si korban mati, kehabisan darah....Aduh, mangerikan sekali !
Betapa kejam dan tega engkau,hai manusia biarpun hanya terhadap seekor hewan yang pasti tidak bisa menuntut balas, apalagi secara hukum atas perlakuan manusia yang sewenang-wenang itu. Manusia yang kehilangan unsur kemanusiaannya. Siapa yang telah membuat peraturan dan menciptakan ketentuan yang kejam dan terlihat kurang sesuai dengan kemajuan jaman dan cara berpikir umat manusia secara univesal sekarang ini ? Nenek moyangkah, mungkin. Di Jaman apa dan kondisinya seperti apa !
Sangat mencengangkan bagi saya. Si pembawa acara setelah berita selesai, tersenyum dengan renyah dan mempesona sepertinya sangat menikmati adegan yang sadis itu tadi.
Sedangkan adegan tadi ditonton banyak orang terlebih anak anak baik secara langsung mupun melalui berita itu, sepertinya anak bangsa ini diberi pelajaran teori dan praktek secara cuma cuma untuk berlaku sadis. Dikemudian hari !

Berapa banyak sudah di Tanah Air anak - anak yang masih murni bersih hatinya, sudah diajar untuk berlaku dan berbuat kejam dan sadis ke pada satwa, apapun ia.. Seharusnya,, latihlah anak anak untuk berjiwa penyayang Tirulah walau dari luar, Negara Barat pada umumnya yang sangat menghargai dan menyayangi satwa dan akhirnya akan membentuk jiwa pengasih dan penyayang khusus keada anak anak dalam pertumbuhannya .

Sebenarnya, kejadian seperti ini, baik Pemerintah melalui Kementeruian yang terkait atau cukup Pemda dengan segala wewenangnya bisa melakukan pencegahan secara persuasif, berbobot dan terarah agar Acara Adat yang ada unsur sadis dan kejam bisa dialihkan dengan cara lain yang lebih manusiawi. Jaman sudah jauh berbeda. Pikiran dan perasaan manusia sudah berubah.
Membunuh hewan untuk korban tetap bisa dilakukan tetapi secara baik dan beradab tidak perlu dengan menyiksa. Bukankah terlihat lebih BERPERIKEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB ! ( Pancasila )

Hal seperti ini memang masih sering terjadi di Tanah Air. Mungkin masih banyak yang ingat atau pernah mendengar `Peristiwa Orang Hutan si Tole` di Jawa Timur yang sangat mengenaskan dan menimbulkan rasa iba, walau terhadap satwa. Rakyat selalu tak berdaya karena dihadapkan pada kekuasan dan inner circles yang birokratis tanpa kebikjaksanaan dan harus memilih dua pilihan ~ Buah Simalakama ~ yang getir.

Pejabat mana yang mempunyai wewenang mau benar benar peduli. Yang peduli tak berdaya. Yang tidak peduli tetap berjaya. Siapa peduli siapa. Wong manusia saja tidak diperdulikan. Aduh, kepada siapa satwa satwa ini harus mengadu nasibnya, wong manusia saja sulit mencari tempat mengadu dan memperoleh perhatian dan tindakan pasti. Bukan janji janji belaka.

Manusia....sadarlah, hidup ini sangat singkat !
Jangan berlaku sewenang wenang kepada siapapun. Seisi Jagad Raya ini
Lihat saja, pembabatan hutan yang sewenang wenang, perbuatan sengaja yang menimbulkan pemanasan bumi, makin menipisnya ozon dan bahkan membuka celah di angkasa yang sangat membahayakan seisi dunia hanya karena keserakahan demi kenikmatan dan mengisi kantong segelintir orang tertentu yang tidak peduli akibat yang akan dirasakan generasi mendatang. Pokoknya sekarang hidupnya nikmat sejahtera ! Hidup dan Kehidupan terfokuskan untuk kepentingan masa hidup dirinya sendiri. Masa mendatang ? Persetan....aku memang setan ! Tanpa sedikitpun mau memikirkan akibatnya seperti perubahan cuaca yang mempengaruhi kehidupan dan membahayakan hidup umat manusia dan juga satwa serta seisi bumi..

Suasana perubahan cuaca dan alam sudah terjadi dimana mana.
Belumkah ini satu bukti...... Ataukah terus disangkal.
Siapa yang paling bersalah ? Kita semua.

o0o

(Nardi tn)

Artikel Lainnya.....






Untuk kritik dan saran:
HUBUNGI REDAKSI

Kedua logo perguruan terdaftar pada HAKI No.J00-01-19127 dan HAKI No.J00-01-19128. Dikelola oleh Pengurus Pusat Perguruan, dan didukung langsung oleh Pimpinan Pusat Perguruan. Tampilan terbaik pada resolusi 1024 x 768.