Member of Federasi Olah Raga Karate-Do Indonesia
SINCE 1967
MEDIA CETAK :

MENU
Silahkan klik pada tombol menu yang diinginkan:

curriculum
organization
forki
karate coach
event
black belt
merchandise
article
article
pesan perguruan









Basic (KIHON) pada saat ujian kwartal di DKI 2004











Kirimkan berita, pengumuman dan acara yang akan dan telah berlangsung di daerah anda ke email redaksi.











SUARA SHIHAN


JALAN SETAPAK MENELUSURI 40 TAHUN PERGURUAN
7 MEI 1967 - 7 MEI 2007

KEGUNAAN TANGAN DAN KAKI
PADA SENI BELADIRI


DUNIA OLAH RAGA
Sinar Harapan, Selasa 9 Maret 1982


Suatu kenyataan dalam kehidupan, bahwa sejak bayi hingga lanjut usia, daya guna tangan selalu lebih menonjol dari pada kaki. Anak kecil yang belum mampu berdiri, telah lincah mempermainkan tangannya untuk memegang, menarik, menampar bahkan dalam suasana kegembiraan yang meluap, gerakan kedua tangannya makin lincah. Anak dalam masa pertumbuhannya, sangat mengandalkan tangannya. Sejak mulai berdiri khususnya untuk membantu keseimbangan pada saat mulai melangkahkan kaki belajar berjalan. Mulai di Taman Kanak Kanak sampai menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi, orang lanjut usia dengan kakinya yang sudah tidak mungkin lagi dibuat berjalan dan terpaksa haruis mempergunakan kursi roda, tetap mengandalkan kedua tangannya. Kecuali apabila terjadi kelumpuhan total. Hal ini memang diluar perhitungan dan merupakan perkecualian.

Duduk santai di rumah, bekerja di kantor, di kendaraan umum ataupun pribadi, dalam pesawat, kereta api dan jalan laut, nonton film dan hiburan lain, di rumah makan dan tempat tempat rekreasi dimana saja keaktifan tubuh diperlukan, fungsi tangan tetap lebih dibanding kaki. Ini memang suatu kenyataan dan setiap orang bisa merasakan akan kebenarannya. Dalam menunjukkan keperkasaannya, Dewa dalam dongeng dongeng, sering digambarkan bentuk manusia banyak tangan. Bahkan Samson pun dalam masa akhir hidupnya, menunjukkan kekuatan yang luar biasa melalui kedua tangannya, meruntuhkan kedua pilar utama, sehingga rubuhlah seluruh gedung yang akhirnya juga merengut jiwa dan lawan lawannya. Dalam perbandingan kasar sehari hari, dalam hidup manusia ini tidak kurang dari 60 : 40 antara kegunaan tangan dan kaki. Bahkan sering lebih tinggi lagi dengan angka tangan 80 : 20 dibanding kaki.

SENI BELADIRI DAN MACAM PENAMPILANNYA.

Ada berpuluh macam dan bentuk Seni Beladiri, arah tujuannya tidak jauh berbeda. Mempelajari seni ini dengan sendirinya sudah melakukan kegiatan olah raga sehingga factor satu ini bisa dianggap secara langsung terpenuhi. Tujuan utama adalah, sanggup membela diri disaat terdesak dan untuk menolong sesamanya yang dalam bahaya maupun dirinya sendiri. Bermacam macam seni beladiri diri, metode dan ciri cirinya, serta kelebihan dan kekurangannya. Tapi yang tetap tampak menonjol adalah, kegunaan tangan selalu diatas kegunaan kaki. Ini merupakan keadaan umum. ( Judo, Akai Do sangat nyata )

Diluar hal hal yang merupakan perkecualian. Menjauh dan nmengingkari kodrat manusia yang satu ini, akan menimbulkan kejanggalan kejanggalan dan kelemahan yang mungkin kurang menyadari kenyataan yang timbul dalam keadaan sesungguhnya. ( Taekwon do, dahulu disebut Tae Kyon, seni menendang, belakangan untuk menyesuaikan keadaan, dinamakan Taekwon Do. Seni menendang dan memukul ).

Kaki memang merupakan senjata masnusia yang baik apabila terlatih secara meyakinkan karena kaki jauh lebih kuat dan jangkauannyapun lebih jauh dari tangan, walau arah gerak kaki lebih terbatas dibanding tangan. Kaki dengan tendangan tinggi dan melingkar, terlihat lebih spektakuler daripada gerakan gerakan tangan walaupun manfaatnya jauh lebih besar. Benarkah tendangan tinggi dan melingkar paling effektif ?. Tendangan tinggi bermanfaat apabila dilakukan pada saat yang tepat, dimana lawan kurang menyadari dengan jarak dan tempo yang memungkinkan. Jadi semacam curian pada saat lawan lengah, tidak dilakukan sebagai serangan utama. Tendangan merupakan pelengkap dan tidak berdiri sendiri dalam segala suasana. Bruce Lee dalam film terlihat hebat dengan tendangannya sehingga menarik banyak penggemar dan pengaum diseluruh dunia. Menjawab pertanyaan para wartawan mengatakan : Tendangan tinggi saya demi kepuasan penonton disamping tehnik pengambilan. Tetapi dalam keadaan sesungguhnya, dimana saya harus melawan lawan yang tangguh, tidak akan saya lakukan tendangan tendangan tinggi. Disamping tidak effektif juga sangat membahayakan diri saya sendiri. Tendangan demikian hanya saya lakukan kadang kadang dikala lawan lengah dan tangan tetap sebagai senjata utama. Saya lebih banyak menendang rendah kearah titik lemah lawan untuk segera melumpuhkannya.

Demikian komentar Bruce Lee, seorang expert Kungfu di A.S. yang kini telah tiada ( Jeet Kune Do ).

SENI BELADIRI DALAM LATIHAN

Didalam ruang latihan warga dibina phisik, mental dan tehnik sampai mencapai kondisi yang memenuhi syarat. Pembinaan phisik merupakan landasan utama dimana diatasnya akan tumbuh ketahanan mental dan perkembangan ketrampilan serta kemampuan bertehnik yang berimbang. Adalah mustahil tanpa keadaan phisik yang tergembleng baik seseorang akan memilki mental yang tinggi dan kecakapan yang seperti diharapkan dalam suatu seni beladiri. Phisik dan kondisinya adalah fondasi dimana yang lain akan saling ikat mengikat tumbuh diatasnya. Saat latihan adalah waktu yang tepat untuk mengerahkan warga sesuai dengan teori dan praktek, seimbang kemampuannya. Mungkin dalam latihan sehari hari, apa yang diberikan dan harus dikuasai jauh lebih berat dari kenyataan yang sesungguhnya. Demikian memang seharusnya, untuk mencapai kondisi yang baik.

Suatu contoh pada penerbangan ke luar angkasa, seorang penerbang yang terpilih, selama latihannya di bumi akan mengalami teori dan praktek yang jauh lebih berat dan lebih lengkap dibanding dengan kenyataan yang kelak mungkin dihadapi dalam penerbangan sesungguhnya. Uji coba sangat berat dan menegangkan dan dialami berkali kali serta berturut turut Semua bahaya dan kesukaran kesukaran darurat yang mungkin timbul harus dialaminya, seperti benar benar tejadi. Dengan latihan yang luar biasa beratnya ini, pelik, keras, orang yang tergembleng secara lengkap sebagai pribadi yang siap menghadapi segala kemungkinan, apabila kelak dalam penerbangan sesungguhnya, dimana bahaya mengintai disetiap saat, menghadapi keadaan yang kritis dan diluar perhitungan, maka dengan kecakapan yang telah dimilikinya dari berbagai pengalaman, akan sanggup mengatasinya walau tanpa instruksi dari bawahpun.

Demikian juga dalam latihan seni beladiri, latihan harus jauh lebih keras dari kenyataan yang mungkin dihadapi dalam keadaan sesungguhnya. Latihan sehari hari di Dojo adalah merupakan masa praktek berdasarkan teori yang telah diperolehnya sambil memperkembangfkan bakat dan ketrampilan masing masing.

Kegunaan tangan dan kaki serta ketahanan phisik diuji. Sebisa bisanya diatur demikian rupa agar fungsi tangan dan kaki berimbang dan bergantian, demi keharmonisan pembentukan phisik. Semuanya masih diarahkan sesuai instruksi Pelatihnya.

SENI BELADIRI UNTUK DEMONSTRASI

Untuk tujuan demonstrasi, teori dan praktek digabungkan secara lengkap. Kadang kadang terlampau fantastis hanya untuk mencapai segi keindahan yang menarik. Faktor kemendadakan ditiadakan atau hampir tidak ada. Semua sudah dipersiapkan dan diatur demikian rupa sehingga masing masing mengetahui apa yang harus dilakukan. Hampir tidak ada ketegangan kecuali perasaan akan gagal dan malu menghadapi mata penonton.

Karena persiapan persiapan sebelumnya, keberhasilan suatu demonstrasi memang sangat tergantung pada ketrampilan si pelaku dan cukup tidaknya waktu untuk persiapan. Demonstrasi selalu dilihat lebih indah, segala tehnik selalu bisa ditampilkan berdasarkan penataan yang teliti. Yang terlihat, sangat amat mengagumkan dan memberi kepuasan pada penonton seperti halnya kalau kita melihat tehnik tehnik dalam film silat yang cukup banyak beredar. Dengan beraneka ragam tehnik yang kadang kadang mustahil, tapi tidak bisa disangkal sebagai tontonan memang menarik. Pada adegan adegan seperti itu, kaki dan kemahirannya akan ditampilkan lebih banyak dari tangan. Memang dipaksakan keadaan ini, untuk kepuasan itu tadi. Sebelumnya telah dilakukan suatu perjanjian agar jarak antara mereka yang melakukan demonstrasi ini dijaga untuk memungkin dilakukan tendangan tendangan yang tepat dan menarik.

Apakah dalam keadaan sesungguhnya perjanjian semacam ini ada dalam menghadapi lawan ?.

Wajar, bahwa penghargaan penonton lebih besar kepada tehnik kaki daripada ketrampilan tangan. Harus diakui, untuk melatih kaki memang jauh lebih lama dan sukar dibanding membentuk kecakapan tangan. Mungkin dalam demonstrasi, perbandingan jadi terbalik dengan 40% : 60% untuk tangan dan kaki, atau mungkin lebih.

SENI BELADIRI UNTUK PETANDINGAN

Dalam suatu pertandingan, masing masing mempergunakan kesempatan sesuai dengan kemampuan dan 70 % mendekati kenyataan serta 30 % merupakan keterikatan akan peraturan dan ketentuan yang membatasi kebebasannya. Segala pertandingan selalu diikat oleh peraturan dan ketentuan yang jelas dan sebelumnya, telah disetujui kedua belah pihak dengan mengerti dan sadar. Bertanding bisa saja keras, tetapi harus dihindari kekasaran. Keras dan kasar adalah dua istilah yang tidak sejalan. Hakekat suatu pertandingan, apapun nama dan tujuannya, masing masing pasti bertujuan mencapai titik akhir sebagai juara. Semboyan semboyan yang mengatakan bahwa suatu pertandingan yang penting adalah demi persahabatan tanpa mementingkan kemenangan, adalah semboyan kuno dan tidak berlaku lagi sekarang. Tujuan menjadi juara adalah utama, selama masih dalam batas peraturan yang ada. Bahkan sering peraturan dilanggar dengan lihainya sehingga tak terlihat oleh pengawas, atau sengaja tidak dilihat untuk melicinkan titik tujuan salah satu pihak yang sering disebut kecurangan.

Akhir akhir ini terlihat timbulnya pertandingan baru dimana factor keindahan tehnik dikesampingkan dibanding masa silam. Dalam pertandingan, factor kemendadakan timbul, keteganganpun dialami, karena memang mendekati keadaan sesungguhnya. Dalam sekejab tanpa direncanakan orang harus bisa menahan, menghindar, menolak dan membalas menyerang secara mendadak pula dengan jumlah kemungkinan yang tak terbatas yang mungkin timbul. Semuanya ini lebih memerlukan konsentrasi dan pengerahan daya kemampuan sepenuhnya, tapi masih ada keringanan karena batas batas peraturan dan jumlah lawan dan waktu terbatas.

Tidak bisa disangkal, dalam suatu pertandinga, betapapun masing masing telah mengerahkan segala kemampuannya, yang tentunya tidak mudah dan ringan, tetapi dipandang dari segi keindahan tehnik pasti kurang memberikan rasa puas, khususnya bagi mereka yang sudah terlalu dipengaruhi bayangan dan khayalan yang muluk muluk. Memang, apabila adegan film yang dibuat perbandingan, pasti hanya kekecewaan yang diperolehnya. Karena adegan film tidak bebas, sama dengan demonstrasi yang sudah dipersiapkan.

Dalam adegan film yang menegangkan, dimana dua orang atau lebih melakukan perkelahian yang dahsyat dan spektakuler terus menerus, masih sering terdengar komentar didalam kesunyian!: " Wah, luar biasa dan hebat,sungguh kuat mereka itu dan tahan pukul ". Memang lucu komentar ini, sama juga waktu melihat film horror yang menegangkan. Orang akan cepat beranggapan betapa ngerinya si pelaku seorang diri dalam kegelapan dan hantu hantu bergentayangan, tapi lupa bahwa ini hanya adegan film. Pada saat pengambilan entah berapa orang berada disekitarnya dari Sutradara sampai seluruh stafnya. Menyaksikan pertandingan Judo Internasional di Tokyo bulan November 1981 yang lalu, bisa dijadikan contoh bahwa sudah terjadi pergeseseran pandangan dalam mengejar kejuaraan.

Dahulu, segi keindahan tehnik untuk mencapai kemenangan dalam menjatuhkan lawan lebih diutamakan. Tetapi kini, apapun dilakukan dalam batas ketentuan, walaupun sering dengan mencuri curi asal bisa mencapai mahkota tertinggi. Seolah olah pikiran utama adalah jadi juara.

Salahkah pandangan semacam ini di jaman gegap gempita penuh persaingan ini ?.

Tidak, memang keadaan jaman dan kemajuan serta persaingan yang makin ketat seoloah olah mengharuskan hal yang demikian itu. Sebab masa sekarang yang diumumkan bukan keindahan tehniknya tapi siapakah dan Negara manakah juaranya. Ini bagi mereka lebih penting dan nyatanya memang demikian. Wasitlah yang harus lebih cermat. Hanya, betapapun kurang cermatnya, betapapun kurang memuaskan dari segi tehnik, suatu pertandingan yang bersungguh sungguh selalu lebih menarik minat untuk ditonton. Karena suatu pertandingan, sebagian besar membutuhkan penonton, tanpa ini terlihat gersang.

Penonton pada umumnya senang akan pertandingan yang bercorak keras dan nyata, dimana ketahanan phisik benar benar diuji yang tidak mudah dilakukan setiap orang.

SENI BELADIRI UNTUK BELADIRI

Puncak tujuan belajar seni beladiri adalah untuk beladiri dalam keadaan memaksa dan terdesak. Salahkah orang yang mempergunakan ketrampilannya untuk membela diri, tentu tidak. Asal jalan lain tidak mungkin ditempuh untuk menghindarinya. Hal hal lain adalah untuk melengkapi saja dan menyempurnakan keseimbangan phisik dan bathin. Dalam keadaan terdesak apabila diperlukan apa yang bisa dilakukan akan dikerjakan untuk melumpuhkan pihak lawan tanpa terikat satu peraturan Kebebasan ada pada dirinya untuk mempertahankan diri dengan kemampuan tangan dan kaki yang ada.

Mungkin anggota badan yang lain atau apa saja yang ada diluar dirinya untuk mempercepat kemenangan. Ini wajar dan benar. Soalnya, memang dalam keadaan bahaya dan mendesak. Juga, dalam suatu perkelahian sesungguhnya tidak mungkin dilakukan perjanjian dan syarat syarat dalam penggunaan tehnik. Semuanya serba alamiah dan apa adanya. Lawanpun akan segera mengincar kelemahan diri kita. Dalam keadaan seperti ini, orang akan kembali ke kodrat alamiahnya. Kegunaan tangan akan lebih menonjol dari fungsi kaki dan kemampuan tangan lebih tinggi dari kemampuan kaki untuk menghadapi segala kemungkinan.

Kelemahan dan kejanggalan bagi mereka yang terlampau mengandalkan kemampuan kaki melebihi fungsi tangan, akan segera tampak dengan jelas. Jangan berpikir bahwa lawan selalu mengikuti kehendak dan kebutuhan kita, karena justru lawan akan memperhatikan kelemahan dan lobang lobang yang ada pada diri kita. Apabila lawan sadar akan kelebihan kaki musuhnya, tapi melihat kelemahan pada bagian tangan, maka tidak mustahil bahwa lawan "infight", perkelahian jarak dekat. Dengan demikian kaki jadi lumpuh, apalagi kalau lawan mempunyai phisik yang tangguh.

Dengan cara mendesak, pertahanan kaki akan berantakan dan akan merupakan titik balik bagi si mahir tehnik kaki yang tidak diimbangi kelebihan tangan.

Kelebihan yang diketahui lawan adalah "senjata makan tuan".

Masih lebih menguntungkan orang yang penguasaan tangan tinggi dengan kemahiran kaki sedang karena disaat lawan lengah pada jarak yang sesuai, terbuka,serangan kaki bisa sangat effektif, tapi tidak pada saat lawan sadar dan penuh konsentrasi. Dalam keadaan seperti ini penggunaan kaki hanya akan menghabiskan energi dan berbahaya bagi dirinya sendiri tanpa manfaat yang nyata.

Kembali pada kodrat manusia tadi, tetaplah pada hukum bahwa fungsi kaki selalu dibawah tangan.

Latihan tangan, setidak tidaknya seimbang dengan kaki apabila mungkin lebih. Ini bukan berarti meremehkan latihan kaki, tapi jangan sampai meninggalkan kodrat yang sudah menjadi ciri manusia utuh dan anggota badannya. Melawan kodrat alamiah manusia berarti memperlemah keadaan diri sendiri. Alam tidak menghendaki hukum yang salah.***

000


IT IS NICE TO BE IMPORTANT,
BUT IT IS MORE IMPORTANT TO BE NICE


Slogan ini selalu dikatakan EBET KADARUSMAN sewaktu menjadi presenter di salah satu Media Layar Kaca beberapa waktu yang lalu. Arti dan intinya indah sekali. Dengan kalimat yang singkat itu, seolah olah sudah merupakan nasehat jalan hidup yang komplit bagi kita manusia, apabila didalami arti dan maksud tujuannya..

Memang benar, untuk menjadi manusia sesuai kodratnya. Hidup berdampingan secara damai, mengedepankan sifat dan sikap terpuji, ramah, baik dan manis terhadap sesamanya dalam segala gerak langkah kehidupannya, setidak tidaknya selalu berusaha dengan sungguh sungguh, peduli akan lingkungannya dan menempatkan dirinya selalu dalam perimbangan yang selaras antar kata dan perbuatan. Resepnya sederhana saja; yaitu : "Memang baik menjadi orang penting, tetapi lebih penting menjadi orang baik".

Manusia memang bukan mahluk sempurna. Betapun sudah berusaha semaksimal mungkin untuk berbuat baik, masih ada saja kekurangan serta tindakan dan perbuatan yang melenceng dari jalur kelurusan hidup, karena seperti kata pepatah : "Tiada gading yang tak retak". Demikian juga manusia.

Hanya, dalam hidup dan kehidupan ini, apabila 60 % dari segala perbuatan kita sudah mengalir dari sumber kebaikan dan kebenaran yang tulus dari dalam hati serta 20 % terdiri dari perbuatan perbuatan yang sudah diusahakan semaksimal mungkin untuk berjalan diatas ril kebajikan, tetapi masih terdapat gerigi gerigi kehidupan tajam yang tidak mulus yang mungkin menimbulkan luka kecil pada sesamanya serta 20% sisanya adalah kekurangan kekurangan kita dalam menata jalan yang kita lalui, maka kita boleh merasa lega, karena tugas dan kewajiban kita untuk hidup bermanfaat bagi sesamanya, sudah layak disebut " baik". Manusia dengan nilai kemanusiaan yang mempunyai harga sesuai kodratnya. Syukur apabila yang 60% bisa tumbuh lebih tinggi membuat prosentasi yang lain terdesak mengecil, akan lebih indah dan mulia. Usahakan!.

" Suatu keyakinan yang mendalam, membuat orang kebal terhadap ejekan dan hinaan ". ( W.P. PATTON) - Jendral Besar A.S.

Tulisan berikutnya menyusul.

o0o

( nardi tn - II, 07)

Artikel Lainnya.....






Untuk kritik dan saran:
HUBUNGI REDAKSI

Kedua logo perguruan terdaftar pada HAKI No.J00-01-19127 dan HAKI No.J00-01-19128. Dikelola oleh Pengurus Pusat Perguruan, dan didukung langsung oleh Pimpinan Pusat Perguruan. Tampilan terbaik pada resolusi 1024 x 768.